Posted by Oktovianus Pogau under
TNI,
opm,
papua | Tag:
opm |
[8] Comments
Oleh: Soehendarto
PUNCAK JAYA [Sinar Harapan] – Tingginambut adalah sebuah distrik (kecamatan) di Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua. Lokasinya di jajaran pegunungan tengah pada ketinggian 4.000 meter. Sulit mencari hari dengan udara hangat di sini. Sepanjang hari selalu dingin, rata-rata
10 derajat Celsius. Kabut tebal memutih kerap menyelimuti wilayah ini sampai ke permukaan tanah. Bagi orang luar yang masuk ke kawasan ini, kondisi alam tersebut akan terasa berat. Apalagi kalau mereka tidak mengenal adat istiadat suku Lani, penghuni kabupaten ini.
Di sini pula bermarkas sekelompok orang yang bergabung dalam Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) yang dipimpin ”Jenderal” Goliat Tabuni yang oleh para pengikutnya disebut sebagai ”Panglima KODAP III”. Kelompok ini sampai sekarang masih berseberangan dengan pemerintah. Mereka menuntut masyarakat disejahterakan, atau terus berjuang untuk lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. (lagi…)
MAGELANG [Gatra.com] – Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso menegaskan, institusi TNI turut bertangungjawab atas insiden kekerasan di Timor Timur (Timtim), menjelang dan setelah jajak pendapat 1999.
“Itu menjadi tanggung jawab negara dan menjadi tanggung jawab insitusi TNI,” katanya usai memimpin Prasetya Perwira Prajurit Karier Tahun Ajaran 2008, di Lapangan Pancasila, kompleks Akademi Militer, lembah Gunung Tidar, Kota Magelang, di Magelang, Kamis.
Hingga saat ini, katanya, pihaknya belum mengetahui bentuk pertanggungjawaban yang dilakukan TNI atas persoalan itu karena pemerintah masih memelajari laporan Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) RI-Timor Leste (lagi…)
Posted by Oktovianus Pogau under
Tulisan 1 Comment
Seringkali kita manusia merasa Tuhan tidak adil terhadap diri kita. Bahkan dengan kekecewaan itu membuat kita selalu memaksakan kehendak kita kepada Tuhan agar Tuhan menuruti semua yang kita dia tahu apa yang kita butuhkan, harapkan. Padahal kita perlu tahu dan pahami bukan kita yang menciptakan Tuhan melainkan Tuhanlah yang meniciptakan dan membesarkan kita.
Ketika kita memaksakan sesuatu kepadanya dan tidak dituruti kita sering mengatakan bahwa “kenapa yah Tuhan mengirimkan aku kedunia ini” raja Daud pun pernah mengalami hal demikian. dirinya beberpa kali menangis sambil berlutut dan berdoa kepada Tuhan karena kekecewaan kepada Tuhan karena dia lahir dari istri yang tidak sah (perempuan jalanan) namun Tuhan mempunya rencana yang sangat luar biasa terhadapnya.
Buktinya dia menjadi raja atas bangsa israel. Tuhan mempunyai rencana yang indah ketika menciptakan kita dari berbagai latar belakang keluarga yang berlainan. mungkin kita di ciptakan diantara keluarga yang muskin, mungkin juga kita diciptakan diantara keluarga yang kaya raya. (lagi…)
Posted by Oktovianus Pogau under
TNI | Tag:
intimidasi,
png,
TNI |
1 Comment
sumber :www.kabarpapua.com
Jayapura [kabarpapua.com] -TNI di perbatasan Papua Barat dan PNG dikabarkan telah menentang protokol diplomasi dan militer. Mereka terus melanggar batas internasional dengan PNG, serta dalam tiga bulan terakhir mereka melakukan intimidasi terhadap warga PNG di kampung Wutung, Propinsi Sandaun PNG.
Cliford Faiparik via kabar online The National melaporkan kondisi yang dialami warga PNG di sekitar perbatasan dan Pasukan Militer PNG bertugas di wilayah perbatasan itu bahwa, mereka dalam tiga bulan trakhir, dari bulan Mei, Juni hingga terakhir pada bulan ini, tepatnya hari sabtu lalu melihat pasukan Batalion 408 sudah berada dalam wilayah PNG.
Intimidasi dialami oleh Sersan Ante dan keluarganya di Wutung, wilayah PNG. Menurut mereka TNI pada pukul 11.30 melakukan intimidasi dan menyuruh mereka membongkar rumahnya dan pindah dengan alasan tanah itu bagian dari wilayah RI. “saya mengatakan kepada mereka bahwa ini tanah saya, tapi mereka tidak menghiraukannya, dan mereka mulai memator batas baru hingga sampai ke Pantai, kata Ante yang berada bersama keluarganya. (lagi…)
sumber : www.papuapost.com
TEMPO Interaktif, Jakarta:Korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) Timor Timur masih bisa mencari keadilan melalui jalur internasional. Ketua Komisi Nasional HAM Ifdhal Kasim mengatakan, mekanisme internasional tersebut yakni mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membuka peradilan internasional terhadap pelaku pelanggaran HAM ”Selain, perlu juga diketahui bagaimana sikap Sekretaris Jenderal PBB atas hasil kerja Komisi Kebenaran dan Persahabatan dan komisi ahli PBB yang memantau proses penegakan hukum di pengadilan HAM sebelumnya,” ujar Ifdhal saat dihubungi Tempo, Rabu (16/7).
Komisi Kebenaran dan Persahabatan Indonesia-Timor Leste telah menyerahkan laporan akhir tentang temuan pelanggaran berat hak asasi manusia sebelum dan setelah jajak pendapat di Timor Leste, September 1999. Komisi yang dibentuk sejak 11 Agustus 2005 itu menyerahkan laporannya kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta, dan Perdana Menteri Timor Leste Kay Rala Xanana Gusmao di Nusa Dua, Bali, Selasa (15/7) kemarin. Kedua negara bersepakat tidak melanjutkan kasus pelanggaran HAM yang terjadi sebelum dan sesudah jajak pendapat ke proses hukum. (lagi…)
Posted by Oktovianus Pogau under
otsus,
papua | Tag:
bas,
kampung,
turkam |
1 Comment
http://www.papuapos.com
Gubernur Papua, Barnabas Suebu SH saat turkam di Jayawijaya
Biak – Tahun anggaran 2008, Pemerintah Provinsi Papua akan membagikan uang sebesar Rp. 1 triliun kepada masyarakat kampong melalui program Respek dan kegiatan turun kampong oleh Gubernur Papua, Barnabas Suebu SH.
“Program rencana strategis pembangunan kampung (Respek) setiap tahun dievaluasi pemerintah provinsi Papua, kita harapkan dalam 10 tahun kedepan bantuan dana mencapai Rp10 Triliun,” kata Gubernur Suebu pada program turun kampung (Turkam) di Pasar sentral Masram, Distrik Supiori Timur, Kabupaten Supiori, Senin.
Ia mengatakan, pengelolaan dana Respek di kampung harus dilakukan secara transparan artinya diketahui semua masyarakat kampung serta harus dipertanggungjawabkan pengelolaan anggaran bantuan pemerintah itu secara benar. (lagi…)
Posted by Oktovianus Pogau under
Tulisan,
sugapa | Tag:
bangkit,
gunung,
paniai,
papua |
Leave a Comment
Melihat kepiawaian team kontigen dari Kabupaten Pania dalam membawakan tari-tari sejenak berpikir dan terbayang dalam diri penulis sepertis saya yang masih belia ini kira-kira berapa lama lagi kebolehan dalam mengolah, menarik suara dan menggemparkan panggung dengan acara seperti ini akan tetap berlangsung. Hal ini langsung di sambung oleh Yulianus Yeimo yang pada saat itu Ketua Tim Kontingen dari Paniai yang berbicara banyak tetang tengelamnya budaya ini.
Saudara Yulianus Yeimo yang dipercayakan Bupati Yogi untuk membawakan team dari pegunugan tengah yang berjumlah 60 orang ini mengatakan dirinya sebagai kepala team yang sekaligus pecinta seni dari Kabupaten Paniai sangat bergimbira dan bangga pemerintah Kabupaten Nabire dengan segenap usahanya mau membuat dan menyelenggarakn suatu event besar yang kira-kira dihadiri oleh 17 kota dari Provinsi Papua dan Provinsi Irian Jaya Tengah (lagi…)
Sesuai dengan amanat pancasila yang menjadi dasar adanya negara Indonesia dan Undang-Undang Dasar 1945 bahwa siapapun dia tidak pandang berkulit hitam atau berkulit putih boleh berargumentasi dan berpikir untuk kemanjuan daerah Indonesia yang kita cintai dan banggakan bersama ini. Dengan
amanat tersebut banyak orang mulai berkarir dan berkarya untuk kemajuan negara ini. Adanya usaha mereka maka tidak heran saat ini Indonesia jauh lebih maju dibandingkan dengan 7-8 tahun lalu.
Semua karya-karya hebat yang dihasilkan tidak hanya dari satu bidang saja tetapi mencangkup semua bidang seperti bidang pendidikan yang beberapa tahun lalu Yudistira Virgus dan kawan-kawannya berhasil menyabet beberapa emas dan medali di China dalam ajang Oleimpiade Fisika Internasional. Kemudian bidang kebudayaan keberhasilan tim Pasparawi dari Kabupaten Nabire mewakili Papua ke Jawa yang sekaligus rencana akan berangkat ke luar negeri tepatnya di Austria yang sekaligus memajukan nama Indonesia terlebih khusus Papua dibidang kebudayaan yang telah lama tengelam dan terkubur.
Semua gelar dan prestasi yang dihasilkan tersebut tanpa usaha, kerja keras dan semangat juang tidak akan tercapai, tetapi ketiga hal tadi mendasarinya sehingga keberhasilan bisa mereka peroleh. Seperti Yudistira Virgus dan kawan-kawannya harus belajar sungguh-sungguh dan giat tanpa kenal lelah dibawah pimpinan Pak Yohanes Surya sehingga bisa berhasil dan meraih penghargan ditingkat Dunia. Sama halnya dengan tim Pasparawi dari Kabupaten Nabire apabila mreka tidak latihan sungguh-sungguh maka harapan dan impian mereka menjadi juara untuk mewakili daerah Papua akan gagal total. (lagi…)

menulis itu membebaskan
Seorang sahabat datang dengan raut wajah yang sedih seraya mengatakan “Saya sangat sedih kenapa dia membuat hati saya sakit”. Sahabat ini membicarakan pacarnya yang telah membuat hatinya sakit beberapa hari lalu. Kemudian dia mengatakan kalau sakit hati yang telah dirinya alami sudah tidak bisa dihilangkan atau dipulihkan.
Saya sebagai sahabat maupun teman yang sangat akrab ikut sedih ketika dirinya mengungkapkan kalimat tersebut. Namun apa boleh buat saya juga hanya manusia biasa yang tidak bisa menyembuhkan luka batin sahabat saya akibat ulah pacarnya. Dirinya bertanya kepada saya beberapa cara untuk menyembuhkan luka batin tersebut. Saya pun sedikit membuka jalan untuknya. Karena kebetulan saya sendiri orang yang gemar tulis menulis maka saya menyarankan agar dirinya menuliskan semua peristiwa yang telah terjadi dalam buku hariannya kemudian dalam buku tersebut akhiri dengan kata pengampunan untuk pacarnya. Dengan sedikit tips ini, saya rasa akan sedikit membantu dirinya untuk menghilangkan luka batin yang dialami dirinya.
Dua hari kemudian dia tidak masuk sekolah. Saya pun bertanya-tanya dalam hati mengapa dia tidak masuk? Dengan berani saya segera menuju rumahnya dan bertanya mengapa sampai dia tidak masuk sekolah. Jawabnya “Saya sangat senang dengan pendapat kamu berikan dua hari lalu. Mengenai curahan kasih sayang serta kesal melalui sebuah buku harian, ternyata dengan cara tersebut sangat manjur. Karena saya telah sedikit melupakan dirinya yang telah nyata-nyata menyakiti hati saya walaupun saya tahu tidak semudah membalik telapak tangan.” (lagi…)
Posted by Oktovianus Pogau under
Pendidikan | Tag:
guru,
pahalwan,
pendidkan |
[2] Comments

tak perlu ragu lagi
Engkau laksana embun penyejuk, dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa…
Kita tentu masih ingat lirik lagu diatas. Ya, tidak salah, itulah secuil bait lagu Himne Guru. Lirik lagu itu menunjukan bertapa pentingnya keberadaan guru bagi kehidupan seluruh manusia yang ada di muka bumi. Kita pasti mengakui jasa seorang guru bagi diri kita, walau mengakuinya hanya dalam hati kecil.
Lantas, adakah diantara kita yang bercita-cita menjadi guru, sang pahlawan bagi kehidupan manusia itu? kalau ada tak perlu ragu, teruslah maju..!
Dulu profesi guru sangat bergengsi, tapi sekarang rupanya profesi guru kurang diminati lantaran hanya karena kurang dihargai dibandingkan dengan guru yang lainnya yang penuh gemerlap dengan atribut kesuskesan hidup. Padahal kalau kita kaji dan amati kembali pada zaman pejajahan belanda guru sangat dipandang sebagai sesosok pribadi yang dapat memimpin, mengayomi dan melindungi yang disegani serta mempunyai status sosial ekonomi yang relatif tinggi.
Pada masa penjajahan Jepang, profesi guru juga masih terhormat dibandingkan sekarang. Pada zaman itu para guru dijuluki dengan panggilan sensei yang dalam tingkah laku dan kebudayaan Jepang memiliki kedudukan atau status sosial yang sangat dijunjung tinggi dan dihormati. (lagi…)

jangan menghancurkan papua
NABBIRE – sebuah kesimpulan. Banyak yang kecewa akan kemerosotan moral yang terjadi di kalangan warga Papua ketika ia mendapat giliran memimpin. Yakni tidak adanya komitmen dalam memperjuangkan sesuatu ide.
Ketika Gus Dur bertanya kepada Castro, masuk kategori apakah dia. Maka ia memberi jawaban, masuk ke dalam kategori no. 3 dan no. 4. Karena sebelumnya Gus Dur menceritakan sebuah cerita, yang membuat Castro tertawa terbahak-bahak. Yakni lelucon tentang para Presiden Indonesia. Presiden Pertama, Gila Wanita, President Kedua, Gila Harta, President Ketiga, gila beneran, President Keempat (Gus Dur sendiri), yang memilihnya gila.
ternyata, Castro memasukan dirinya, dalam golongan 3 dan 4. Yakni diri-nya gila dan yang memilihnya (rakyat)nya gila.
Ini menarik. Karena Castro yang mengatakan dirinya gila itu, menurut saya, di sini dia menjelaskan konsistensinya di dalam melaksanakan paham sosialis yang berdasarkan Marxis. Meski komunisme dunia hancur (tinggal Korut, Cina (meski ekonomi-nya kapitalis), dan Cuba. belakangan ini Venezuala. Sedang Peru, dan Brasil sedang mencoba mencoba membangun sistem ekonomi mereka sendiri, di luar sosialis dan kapitalis ( pelokalan kegiatan ekonomi) berdasaran teori dari de Soto. FYI, ada perkembangan menarik, yakni, ideologi Maoist di Nepal yang baru berkembang dan berhasil menekan kerajaan. (lagi…)
Oleh : Finis Winarto
Sumber : www.anakindonesiamembangun.org

kota tempat saya di lahirkan
Udara pagi terasa dingin membeku, suasana hening sesekali diselingi gemuruh angin yang menghantam tebing dan menghilang setelah menyusuri lembah. Hangatnya kehidupan mulai terasa ketika terdengar suara anak-anak memuji Tuhan, pujian itu membawa harapan dan cerita akan masa depan bagi setiap orang yang tinggal jauh dibalik gunung berbalut awan dan hampir tak terjangkau . ( Oleh : F.W. Manshande)
Catatan kecil diatas sebetulnya sudah mewakili seluruh keberadaan Pelayanan Pesat di pedalaman Sugapa, melalui TK Cenderawasih. Sama seperti sekolah yang ada di Nabire, TK Cenderawasih mendidik anak-anak dengan pola Asrama.
Bedanya anak-anak yang dididik belum semua mengenal bahasa Indonesia, dan betul-betul masih membawa karakter khas pedalaman. Pendidikan utama ditempat seperti ini sebetulnya bukan terletak pada bidang akademis, namun lebih diutamakan pada impartasi kehidupan dari guru dan pengasuh kepada setiap murid. Mandi, gosok gigi, makan teratur, dan pola hidup sehat adalah bagian dari impartasi yang terjadi. Proses impartasi ini bisa berjalan dengan baik karena mereka hidup bersama dalam satu lingkungan kecil yang disebut Asrama. Apa yang dilakukan oleh guru atau pengasuh, itulah yang dilihat dan ditirukan oleh anak-anak, sebagai sebuah pelajaran kehidupan. (lagi…)