Seorang sahabat datang dengan raut wajah yang sedih seraya mengatakan “Saya sangat sedih kenapa dia membuat hati saya sakit”. Sahabat ini membicarakan pacarnya yang telah membuat hatinya sakit beberapa hari lalu. Kemudian dia mengatakan kalau sakit hati yang telah dirinya alami sudah tidak bisa dihilangkan atau dipulihkan.
Saya sebagai sahabat maupun teman yang sangat akrab ikut sedih ketika dirinya mengungkapkan kalimat tersebut. Namun apa boleh buat saya juga hanya manusia biasa yang tidak bisa menyembuhkan luka batin sahabat saya akibat ulah pacarnya. Dirinya bertanya kepada saya beberapa cara untuk menyembuhkan luka batin tersebut. Saya pun sedikit membuka jalan untuknya. Karena kebetulan saya sendiri orang yang gemar tulis menulis maka saya menyarankan agar dirinya menuliskan semua peristiwa yang telah terjadi dalam buku hariannya kemudian dalam buku tersebut akhiri dengan kata pengampunan untuk pacarnya. Dengan sedikit tips ini, saya rasa akan sedikit membantu dirinya untuk menghilangkan luka batin yang dialami dirinya.
Dua hari kemudian dia tidak masuk sekolah. Saya pun bertanya-tanya dalam hati mengapa dia tidak masuk? Dengan berani saya segera menuju rumahnya dan bertanya mengapa sampai dia tidak masuk sekolah. Jawabnya “Saya sangat senang dengan pendapat kamu berikan dua hari lalu. Mengenai curahan kasih sayang serta kesal melalui sebuah buku harian, ternyata dengan cara tersebut sangat manjur. Karena saya telah sedikit melupakan dirinya yang telah nyata-nyata menyakiti hati saya walaupun saya tahu tidak semudah membalik telapak tangan.”
Saya senang mendengar komentarnya. Namun saya berbalik bertanya pada dia, mengapa kamu tidak masuk sekolah selama dua hari lalu? Dengan sedikit malu dirinya mengatakan,” Saya tidak mau luka batin saya yang telah sembuh terluka lagi oleh dirinya. Karena saya tahu ketika saya melihat dia maka sayapun akan ikut terluka lagi. Jadi jalan keluar yang saya ambil tidak masuk sekolah dua hari lalu agar saya bisa lebih aman dan tenang lagi dan seterusnya saya bisa lebih serius lagi dalam menempuh pelajaran.”
Terakhir ketika menutup perbincangan, dirinya mengatakan kalau sebenarnya menulis itu melepaskan kita dari belenggu dan membebaskan kita dari penjara kehidupan yang sangat rumit. Menulis itu membebaskan, bukan?

Juli 15, 2008 at 8:06 am
salam berpikir merdeka dari bandung
saya suka tulisan anda, tapi sayang tulisan anda tidak seperti anak papua yang saya sering baca di internet , anda tidak revolusiner dalam mengungkapkan gagasan, cobalah berpikir militan agar mereka tahu bahwa kekayaan bangsa papua tidak lagi di tumpahkan di pulau jawa. selamat berpikir merdeka
Juli 15, 2008 at 9:26 am
@esaifoto
salam berpikir merdeka dari bandung
saya suka tulisan anda, tapi sayang tulisan anda tidak seperti anak papua yang saya sering baca di internet , anda tidak revolusiner dalam mengungkapkan gagasan, cobalah berpikir militan agar mereka tahu bahwa kekayaan bangsa papua tidak lagi di tumpahkan di pulau jawa. selamat berpikir merdeka
@blopini
Sedikit ingin menangapi, berpikir merdeka adalah hak manusia sama dengan hak kebebasan berbicara…..kita sama dalam menilai tulisan saudara okto….dia adalah seorang penulis yang mempunyai taste dan sense of crisis tersendiri, memandang sesuatu dari sudut yang pandang lain…oleh sebab itu saya heran dengan komentar Anda yang bertolak belakang….pertanyaanya
1. Apakah tulisan seseorang harus sama, apakah cara berpikir semua orang papua harus sama? (dikotomi dan generalisasi bukan kemerdekaan berpikir, kontradiksi bukan?)
2. Revolusioner adalah ketika terjadi perubahan….visi dan misi berjalan…setelah pemikiran yang benar-benar baru bukan?
(Gagasan mana dari anak papua yang sampe sekarang yang bisa merubah keaadaan?)
3. Berpikir militan itu maksudnya bagaimana? berpikir lempar batu sembunyi tangan?(Saya mengasumsikannya karena militan melakukan taktik gerilya) atau bagaimana?
(Saya pikir militanisme bisa terwujud karena adanya 1 kesamaan visi, 1 kesamaan musuh, 1 kesamaan komitmen, apakah sudah seperti itu? Saya rasa tidak….)
4. Memang kekayaan provinsi kaya lebih banyak tumpah di Jawa (Saya setuju)
ada 3 poin yang Saya tanggapi….setelah membaca tulisan saudara okto….bahwa Dia juga adalah orang yang selalu berpikir Merdeka…oleh karena itu dia mampu menganalisis dan menulis sesuatu, mengenai revolusioner saya pikir berpikir dan memiliki cara pandang yang berbeda saat ini adalah revolusioner….karena ketika orang manggut-manggut tanda setuju, ketika orang menunduk karena di kasih uang…dan ketika daerahnya diperlakukan tidak adil diam berani beda dalam cara membelanya, militan bukan selamanya menjadi solusi…berani berbuat adalah solusi…maju kedepan bentuk opini di masyarakat…rubah cara berpikir mereka..Saya pikir akan lebih dasyat hasilnya daripada Militanisme….
Tetapi dari segalanya Saya adalah pecinta kebebasan….sehingga tidak juga ada larangan untuk Anda untuk berpendapat beda….dan ada 1 kesimpulan yang sangat baik progresnya, sekarang ada 2 orang yang konsen terhadap daerahnya di tambah 1 dengan Saya
Salam hangat
Blopini
saktinasution.wordpress.com | Blopini
Juli 15, 2008 at 11:59 am
ya tulis aja kisah tentang kita, sapa tau jadi novel, kalo lagi beruntung bisa diangkat ke layar lebar, salam kenal.
Juli 16, 2008 at 8:53 am
Salam
ya.. menulis adalh ekspresi dan bagian dari proses kreatif, saat lisan tak mampu lagi menopang beban maka tulisan akan bersedia memberikan semua ruang untuk curahan perasaan.
Juli 16, 2008 at 9:12 am
wah trims yha atas kunjungannya
blognya saya suka, apalagi tulisannya…
Juli 16, 2008 at 2:16 pm
Ya tentu, mengeluaran uneq2 lewat tulisan adalah cara yg paling gampang, gak mahal, dan dijamin keamanannya(dibanding membuka rahasia/curhat ke teman)selanjutnya akan berkurang beban yg numpuk di otak dal akan brasa lega…:D
Juli 22, 2008 at 2:18 am
@Esaifoto
kenapa nggak pernah balas komentar saya????
saya tunggu lho balasannya.
#Maaf kemaren saya sedang off di kantor.
@Esaifoto
makasih dan makasih anda mau berkomentar ke blog saya, rasanya sangat senang bisa berbagi baik dari pemahaman maupun ide-ide.
sekali lagi saya ucapkan thanks bangat (kayak orang jakarte aje..) hehehe
#sama-sama
@Esaifoto
saya menjawab pertanyaan saudara ini, kl nggak puas bisa kok layangkan pertanyaan lagi, karena kebebasan berpikir dan berargumen tentunya adalah hak semua orang termasuk saya dan kamu.
#saya akan selalu mengkritisi apa yang perlu dikritisi, masih seperti slogan yang ada di Blopini
“(dikotomi dan generalisasi bukan kemerdekaan berpikir, kontradiksi bukan?)”
@Esaifoto
saya tidak pernah berpikir supaya setiap tulisan maupun pemikiran orang Papua harus sama dan dikotomi. tapi satu yang saya selalu pikirkan, baik dalam perjuangan melalaui media maupun perjuagan turun kejalan seperti yang anda sebutkan tadi adalah bahwa bagaimana rakyat dan masyarakat yang ada di papua (bukan orang papua saja lhoo) berpikir dan dan berasumsi mengejar kebebasan dan ketidakadilan yang selama ini terjadi di bumi PAPUA yang selalu di lakukan oleh pemerintah pusat.
#baguslah Anda tidak berpikiran seperti itu, karena semua yang homonisme, generalisir, dan dikotomi sangat tidak baik untuk mengembangkan pikiran dan ide .
@Esaifoto
Negara Indonesia adalah negara yang tidak pernah menjunjung tinggi hukum, malahah hukum selalu diinjak-injak untuk kita orang “pinggiran” dan ketika itulah kita merasa kita dilecehkan dan di Injak-injak.
#Negara Indonesia sangat menjunjung tinggi hukum terbukti adanya perangkat hukum dan alat hukum yang lengkap, ada baiknya kita lebih ke alat hukumnya seperti pemerintahan, dan perangkat-perangkat negara….karena mengenarilisir bahwa Negara Indonesia tidak menjunjung hukum sangat tidak pas menurut saya……nah disini dibutuhkan analisa kenapa bisa terjadi???apakah alat hukum tadi yang kurang mengerti atau mengerti sekali sehingga mampu memanfaatkan hukum tadi untuk kepentingannya, atau masyarakat kita yang tidak mengerti sama sekali sehingga bisa dibodohi oleh alat hukum yang memutarbalikkan maksud dari hukum tersebut.
@Esaifoto
kl saya tidak salah, betul nggak yah?? dalam UUD 1945 dalam salah satu pasalanya (saya tidak ingat persis, kl mengingatnya juga menghabisi waktu pikir saya) yang mengatakan bahwa “kemerdekaan adalah hak segala bangsa, oleh sebab itu penjajahan diatas dunia harus di hapuskan”.
#Benar sekali, dan saya rasa itu juga tidak menghabiskan waktu anda….jika pengetahuan menghabiskan waktu anda, saya rasa saya salah bicara dengan anda….jika alasannya karena kebencian anda kepada pemerintah pusat dan langsung menjudge semua salah (generalisir) saya tambah kecewa.
@Esaifoto
karena anda bukan orang Papua, anda tidak pernah merasakan penjajahan itu bukan? sayang kl anda orang Papua anda akan merasakannya, tapi entahlah.
#mmm…..apakah hanya orang papua yang pernah dijajah? apakah orang papua saja yang pernah disakiti? apakah orang papua saja yang menerima ketidakadilan? jangan gitu dong……penjajahan bukan hanya bersifat fisik bukan? (plis jangan selalu merasa tertindas jika tidak bisa melihat keluar apakah orang tertindas juga? apakah ada yang tertindas juga?)
@Esaifoto
satu yang saya mau bilang, PAPUA telah menjadi ‘DAPUR” yang membesarkan dan menumbuhkan orang Indonesia, kenyataan ini tidak bisa dibantah kok.
#tidak ada yang membantah itu….dan tidak perlu penegasan verbal disana, namun ketika anda menyebut Indonesia secara luas anda salah….saya tidak merasa dihidupi oleh orang dan kekayaan papua…namun kekayaan sumatera dan jerih payah saya sendiri(nah inilah akibat dari komentar anda yang selalu mengenaralisir semua permasalahan, seharusnya saya tidak mengatakan wilayah per wilayah agar seimbang…namun apa boleh buat… )
@Esaifoto
Ingat nggak dengan pelarangan terbitan buku salah satu putra daerah Papua dengan yang bernama sendius wonda beberapa saat lalu oleh kejaksaan agung, (kl nggak tau kabar itu berarti anda harus banyak belajar lagi) yang sebagaimana dalam buku tersebut mengunkap berbagai dosa politk di bumi Papua yang dilakukan oleh pemerintah pusat. mulai dari pemusnaan etnis ala indonesia unutk orang Papua, pelurusan sejarah Papua yang sengaja dibengkokan oleh pemerintah RI, Belanda dan Amerika Serikat.
#saya tidak tahu, dan memang saya akan terus belajar….
@Esaifoto
dan saya rasa kl saja buku itu berhasil diterbitkan, bukan tidak mungkin bisa adanya perubahan di Papua, bahkan bukan tidak mungkin proses pencapaian kemerdekaan Papua bisa semakin cepat karena berbagai kedoanya sudah terbongkar melalui buku itu.
#pasti perubahan akan ada, pertanyaanya kemerdekaan yang bagaimana? makarkah? jika memang makar saya rasa negara manapun akan menolak wilayahnya untuk makar, dan akan melarang semua tulisan, pikiran tentang makar tersebut…..dosa politik yang ditulis jika terbukti…saya rasa rakyat papua bisa memfollow up dan mengawalnya untuk dibuka dipengadilan dan mendapatkan keadilan dimata hukum….apalagi rezim orde baru yang melakukan dosa politik tersebut sudah runtuh.
@Esaifoto
kami tidak pernah berasumsi lempar batu sembunyi tangan, tetapi baguslah kl anda sendiri yang mengatakan kl para militan RI lah yang selalu lemapr batu sembunyi tangan, Apakah kasus ketua dewan adar papua yang di bunuh oleh Kopasus mariabuana Jayapura Papua sampai sekarang telah terungkap (jangan mimpi booo, karena sistemnya lempar batu sembunyi tangan “bunuh orang hilangkan jejak”
#mmmm….sayang anda tidak menangkap esensi yang saya maksudkan….saya tidak menuduh…menunjuk…menshoot anda lempar batu sembunyi tangan…..tidak ada maksud….saya hanya menjelaskan militan itu seperti itu…dan malah saya bertanya kembali (silahkan dibaca ulang komentar saya), militan RI?????? sudah beberapa kali anda mengungkapkan RI itu seakan anda bukan bagian dari RI…..bisa dijelaskan?
@Esaifoto
dijawa kaya karena hasil tambang di PAPUA diperas habis oleh mereka, tidak perlu saya mengukapkan juga anda sendiri pasti tau berapa jumlah pajak dari PT. Freport Indonesia dan BPT di Papua barat.
#saya tahu itu makanya saya sedang menyorotinya.
@Esaifoto
dan satu yang perlu di Ingat, sudah banyak yang berasumsi bahkan berapi-api untuk membantu PAPUA agar keluar dari ketertinggalan, baik aktivis dari luar papua, LSM dan juga para koresponden media cetak maupun media elektronik namun ujung-ujung yang dicari oleh mereka adalah “duit” ato lebih kejamnya bisa dikatakan kekayaan. Jadi omongkosong kl ada orang dari luar Papua yang membantu Papua dari ketertinggalan dengan tulus dan iklas.
#hehehe….kembali generalisir….(makin susah saya bicara jika anda terus saja menyamaratakan semua)….memang pada kenyataanya rata-rata LSM sekarang terbentuk karena duit dan menambah kekayaan orang LSM tersebut…..saya ga’ percaya LSM mending berjuang sendiri.
Ada 1 cerita yang mungkin bisa menginspirasikan anda dan teman-teman paua lainnya…..(maaf kalo saya bawa suku dan daerah saya….bukan maksud membanggakan..kebetulan cerita ini dari daerah saya…dan saya rasa sangat berguna buat semua)
Sumatera Utara adalah daerah yang saya rasa kekayaan alamnya kalah jauh dengan daerah seperti papua, kalimantan, riau….dll namun kenapa dia bisa menjadi no 3 di Indonesia??masyarakat Sumut khususnya batak sangat mengenal dengan kata “marsipature huta na be” yang artinya mari membenarkan/membangun desa/kota sendiri/masing-masing. disana dulu seseorang belum dianggap kaya jika tidak membangun jembatan di desa sendiri…masjid dan gereja di desanya walaupun punya rumah dan mobil milyaran….waktu kecil anak batak sering didoktrin agar merantau mencari uang ditanah orang dan kembali membangun daerah serta membantu orang tua….karena ada beberapa slogan yang masih saya ingat waktu mau merantau “biar jadi kambing di kampung, tapi harus jadi singa di tanah orang” artinya kita ditanah orang harus jaya dan bekerja keras…masih banyak slogan dan doktrin atau opini verbal yang ada di masyarakat batak..misalnya “biar aku tamat SD, anakku harus SMP” “anak harus lebih baik dari bapaknya” “pilih jadi preman?..atau sekolah?kalo preman jangan jadi kacungnya tapi bosnya…misalnya bunuh bos mafia…abis itu jadi bosnya….kalo ga’ sanggup mending kamu sekolah” “biar aku ga’ makan asal anakku sekolah tinggi” dan masih banyak lagi…..apalagi suku batak tidak merasa malu ketika bekerja bentuk apapun….asal itu halal.
Apa yang bisa dipetik dari cerita diatas? daerah yang tidak begitu kaya bisa menjadi no 3 karena punya masyarakat yang bekerja keras dan tidak hanya mengeluh….serta adanya opini dan doktrin-doktrin yang sealu diungkapkan semasa seorang anak batak masih balita….sehingga ketika dewasa dia sangat mengingat itu dan tidak mungkin malah menjadi karakter hidupnya….(itulah maksud saya tentang bermain opini atau doktrin dan revolusi pemikiran)….memang dibutuhkan waktu yang lama….
sekali lagi maaf jika cerita saya menyinggung, saya membalas dan menulis komentar sesuai hati nurani saya…dan kecintaan saya terhadap papua dan daerah lain serta yang terpenting Indonesia!!!
Salam hangat