Asrama Agape, (oktopogau.coom) untuk mencapai Papua yang sejahtera, makmur, damai dan sentosa dibutuhkan seorang figur pemimpin yang mau berkorban dan bertanggungjawab. Sebab, maju mundurnya suatu daerah, baik buruknya suatu daerah, makmur dan tidaknya masyarakat yang dipimpin, ditentukan oleh siapa pemimpin yang dipilih rakyatnya.

Otsus jadi pedang bermata dua ditanah yang kaya akan sumber daya alam

Otsus jadi pedang bermata dua ditanah yang kaya akan sumber daya alam

Melalui suara bulat pada penghujung tahun 2005, rakyat Papua telah memilih Barnabas Suebu sebagai gubernur Provinsi Papua beserta wakilnya Alex Hasegem.

Dari berbagai latar-belakanganya, Barnabas Suebu bisa dikatakan hebat dan luar biasa. Beliau pernah menjabat sebagai Gubernur Provinsi Papua beberapa tahun silam sebelum dirinya diangkat menjadi Duta Besar Indonesia Sebelumnya ia juga telah banyak berpengalaman dalam memimpin mulai dari organisasi pemuda, pemerintahan, juga pernah pula Ketua DPR Provinsi Papua, serta sederet jabatan lain yang tak semua orang bisa diemban.

Dengan banyaknya jabatan yang pernah diduduki itu menandakan bahwa Barnabas Suebu telah piawai dalam memimpin maupun mengendalikan masyarakat. Dipercayakan berbagai tanggungjawab yang besar karena memang beliau juga bertanggungjawab dan setia terhadap hal-hal kecil.

Sama halnya Alex Hasegem yang telah berpengalaman dalam berbagai organisasi. Karena kepiawaan dalam memimpin, sehingga ia akhirnya kini mendampingi Barnabas Suebu. Keduanya dipilih seluruh rakyat Papua dengan suara bulat, mengalahkan para pesaingnya.

Kemunculan kedua figur itu menandakan bahwa seluruh rakyat baik yang mendiami daerah pegunungan maupun pantai, sebagai orang yang diutus sang Pencipta untuk membawa keluar Papua dari ketertinggalan, keterbelakangan, kemiskinan, keterisolasian. Menjadikan daerah yang maju, terdepan, berkecukupan dan makmur, merupakan harapan masyarakat secara umum, termasuk anak-anak sekolah dan mahasiswa.

Harapan utama bagi generasi muda itu, paling tidak uang studi mereka tidak tersendat-sendat lagi. Sebagai contoh adalah pengalaman beberapa waktu lalu di Kabupaten Nabire. Anak-anak sekolah berharap biaya pendidikan digratiskan karena telah dijanjikan dengan berbagai dana bantua seperti dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Guru-guru pun berharap kehidupan dan kesejahteraan mereka lebih diperhatikan karena selama ini kadang-kadang terlambat menerima uang pengabdiannya (gaji).

Pun, masyarakat umum tentu saja berharap pelanggaran HAM yang selama ini membabi buta di Papua dapat diminimalisir agar warga hidup aman dan tentram, sembari tetap diusut tuntas motif dan pelakunya.

Kini dipundak Suebu-Hesegem telah diserahi setumpuk harapan rakyat. Tentunya hal itu untuk dipikirkan bagaimana cara untuk memajukan Tanah Papua yang dikenal sebagai tanah emas dan permata yang dinamai para pelaut Spanyol di abad ke-16 itu.

Untuk memajukan, mensejahtrakan, dan memakmurkan rakyat Papua, maka jalan keluarnya dibuat berbagai perombakan kedudukan dan jabatan baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota. Perombakan tersebut tentunya disesuaikan dengan kemampuan dan integritas pejabat di suatu bidang/badan/kantor/instansi pemerintahan.

Gambaran program pembangunan lima tahun kedepan telah dipaparkan Suebu melalui seluruh visi dan misinya. Di depan masyarakat dan dalam banyak kali pertemuan dengan wartawan, Suebu mengemukakan berbagai program kerjanya sesaui visi dan misi tersebut. Salah satu program kerja yang nampaknya disambut gembira banyak pihak adalah pembangunan dimulai dari desa ke kota, bukan sebaliknya. Hal itu ditandai dengan kucuran dana yang jumlahnya bukan main, yaitu Rp 100 juta untuk setiap kampung.

Dan, seiring perkembangannya semenjak menjadi gubernur, satu penghargaan paling bergengsi dari majalah TIME Internasional disabet Barnabas Suebu sebagai “Heroes of the Environment”. Yakni seorang tokoh yang peduli terhadap lingkungan hidup.

Dengan penghargaan itu, apakah Papua akan semakin aman sementara kerusakan lingkungan terus terjadi, penebangan hutan dimana-mana, HPH bertebaran di sana-sini, dll itu?

Sepertinya kita tidak kita hanya mengamati atau mengkaji hal-hal itu dari luarnya atau dari satu sisi saja. Untuk mengukur perkembangan Papua, tentu saja banyak indikatornya. Keseluruhan aspek itu sedapat mungkin memberikan wajah umum perubahan yang diharapkan kita semua.

Dari berbagai problem di pelesok-pelosok Papua, memunculkan sebuah pertanyaan untuk dijawab bersama: kira-kira faktor apa yang membuat Papua dianggap sebagai daerah yang masih tertinggal?

Menurut saya, jika menelisik berbagai visi dan misi untuk mensejahterakan rakyat Papua, tentu saja ada komitmen dan kerjasama semua pejabat dan pihak-pihak lain untuk menjawab keinginan seluruh komponen yang ada di Bumi Cenderawasih ini.

Orang yang tak suka bekerja sama kerapkali melayangkan berbagai kritikan yang tak membangun kepada pihak lain. Suebu-Hesegem banyak dihujani kritik dari berbagai pihak. Salah satunya kritikan datang dari salah seorang pengamat lingkungan di Papua terkait dengan penghargaan dari majalah TIME itu.

Kemudian banyak kritikan juga terhadap penempatan jabatan di Provinsi yang katanya tak mengakomodir orang-orang pegunungan. Kritikan itu boleh saja disampaikan, tapi perlu diingat bahwa tidak semua orang sepemahaman. Dalam pemahaman yang keliru juga akan membuat banyak orang terhasut untuk tidak mendukung program pembangunan menuju Papua Baru.

Kritikan biasanya dilayangkan apabila ada kesalahan atau kelalaian dalam memimpin. Tapi imbasnya terkadang muncul keretakan hubungan kita. Baguslah jika orang yang kita kritik itu bisa menerima dengan lapang dada, dan kemudian memperbaiki sifat atau perilakunya. Tapi apa jadinya kalau hal itu tidak diterimanya? Ya, yang akan terjadi justru hanya saling dendam-mendedam.

Sebab itu, untuk menjadikan Papua yang lebih makmur dan aman, maka perlu kerja sama mulai dari kalangan atas sampai bawah. Contoh nyata adalah gencarnya kucuran dana pembangunan senilai Rp 100 juta per kampung. Tapi bisa kita bayangkan apa jadinya kalau saja dana-dana tersebut tidak dimaksimalkan di tengah warga kampung.

Mengutamakan kerja sama dalam pembangunan menuju Papua Baru, tidak hanya akan menguntungkan satu pihak saja. Kalau ada kerja sama, maka dengan mudah uang pembangunan yang tersalur dengan baik.

Misalkan bantuan studi bagi mahasiswa juga dengan mudah disalurkan, selain itu pembayaran gaji para guru tidak tersendat-sendat lagi. Dan kerjasama menjadi kunci utama, kalau ada kerja sama antara komponen masyarakat maupun pemerintahan, berarti akan menjawab kerinduan keluar dari ketertinggalan, keterbelakangan, kebodohan dan julukan lainya yang selalu distigmakan kepada orang Papua.

Saat kerja sama itu diterapkan, orang tidak akan memandang Papua seperti yang dulunya. Tapi akan tampak Papua seperti yang kita harapkan saat ini. Papua yang dulunya dianggap sebagai tertinggal di bidang pendidikan akan melahirkan para pakar pendidikan, dan tenaga siap pakai lainnya. Juga akan terlihat gedung-gedung mewah dan bangunan-bangunan pencakar langit, dan semua sektor terutama sektor ekonomi pun akan berkembang baik demi kemakmuran rakyat.

Sektor kesehatan yang dianggap rawan, akan lahir para dokter-dokter yang tahu betul tentang kesehatan rakyat Papua. Dan masih banyak lagi kemajuan-kemajuan yang akan terjadi apabila kita semua, masyarakat, para pendidik, para pelajar maupun para pejabat yang ada di Papua mengutamakan yang namanya kerja sama.

Iklan