menulis itu membebaskan

menulis itu membebaskan


Seorang sahabat datang dengan raut wajah yang sedih seraya mengatakan “Saya sangat sedih kenapa dia membuat hati saya sakit”. Sahabat ini membicarakan pacarnya yang telah membuat hatinya sakit beberapa hari lalu. Kemudian dia mengatakan kalau sakit hati yang telah dirinya alami sudah tidak bisa dihilangkan atau dipulihkan.

Saya sebagai sahabat maupun teman yang sangat akrab ikut sedih ketika dirinya mengungkapkan kalimat tersebut. Namun apa boleh buat saya juga hanya manusia biasa yang tidak bisa menyembuhkan luka batin sahabat saya akibat ulah pacarnya. Dirinya bertanya kepada saya beberapa cara untuk menyembuhkan luka batin tersebut. Saya pun sedikit membuka jalan untuknya. Karena kebetulan saya sendiri orang yang gemar tulis menulis maka saya menyarankan agar dirinya menuliskan semua peristiwa yang telah terjadi dalam buku hariannya kemudian dalam buku tersebut akhiri dengan kata pengampunan untuk pacarnya. Dengan sedikit tips ini, saya rasa akan sedikit membantu dirinya untuk menghilangkan luka batin yang dialami dirinya.

Dua hari kemudian dia tidak masuk sekolah. Saya pun bertanya-tanya dalam hati mengapa dia tidak masuk? Dengan berani saya segera menuju rumahnya dan bertanya mengapa sampai dia tidak masuk sekolah. Jawabnya “Saya sangat senang dengan pendapat kamu berikan dua hari lalu. Mengenai curahan kasih sayang serta kesal melalui sebuah buku harian, ternyata dengan cara tersebut sangat manjur. Karena saya telah sedikit melupakan dirinya yang telah nyata-nyata menyakiti hati saya walaupun saya tahu tidak semudah membalik telapak tangan.”

Saya senang mendengar komentarnya. Namun saya berbalik bertanya pada dia, mengapa kamu tidak masuk sekolah selama dua hari lalu? Dengan sedikit malu dirinya mengatakan,” Saya tidak mau luka batin saya yang telah sembuh terluka lagi oleh dirinya. Karena saya tahu ketika saya melihat dia maka sayapun akan ikut terluka lagi. Jadi jalan keluar yang saya ambil tidak masuk sekolah dua hari lalu agar saya bisa lebih aman dan tenang lagi dan seterusnya saya bisa lebih serius lagi dalam menempuh pelajaran.”

Terakhir ketika menutup perbincangan, dirinya mengatakan kalau sebenarnya menulis itu melepaskan kita dari belenggu dan membebaskan kita dari penjara kehidupan yang sangat rumit. Menulis itu membebaskan, bukan?

Iklan