jangan menghancurkan papua

jangan menghancurkan papua


NABBIRE – sebuah kesimpulan. Banyak yang kecewa akan kemerosotan moral yang terjadi di kalangan warga Papua ketika ia mendapat giliran memimpin. Yakni tidak adanya komitmen dalam memperjuangkan sesuatu ide.

Ketika Gus Dur bertanya kepada Castro, masuk kategori apakah dia. Maka ia memberi jawaban, masuk ke dalam kategori no. 3 dan no. 4. Karena sebelumnya Gus Dur menceritakan sebuah cerita, yang membuat Castro tertawa terbahak-bahak. Yakni lelucon tentang para Presiden Indonesia. Presiden Pertama, Gila Wanita, President Kedua, Gila Harta, President Ketiga, gila beneran, President Keempat (Gus Dur sendiri), yang memilihnya gila.

ternyata, Castro memasukan dirinya, dalam golongan 3 dan 4. Yakni diri-nya gila dan yang memilihnya (rakyat)nya gila.
Ini menarik. Karena Castro yang mengatakan dirinya gila itu, menurut saya, di sini dia menjelaskan konsistensinya di dalam melaksanakan paham sosialis yang berdasarkan Marxis. Meski komunisme dunia hancur (tinggal Korut, Cina (meski ekonomi-nya kapitalis), dan Cuba. belakangan ini Venezuala. Sedang Peru, dan Brasil sedang mencoba mencoba membangun sistem ekonomi mereka sendiri, di luar sosialis dan kapitalis ( pelokalan kegiatan ekonomi) berdasaran teori dari de Soto. FYI, ada perkembangan menarik, yakni, ideologi Maoist di Nepal yang baru berkembang dan berhasil menekan kerajaan.

Ketika menonton film-nya, Talk with Castro, saya menjadi tertarik dengan kalimat-nya, bahwa ia bukan ideolog, tetapi activis. Ia melaksanakan teori, dan bukan pembuat teori. Ia mentertawakan kemajuan Amerika Serikat, dengan mempertanyakan tingkat harapan hidup (kesahatan) dan pendidikan serta angka kemiskinan di negara itu (USA memiliki 37 juta rakyat miskin). Sesuatu yang harus diakui, bahwa Kuba lebih unggul dalam hal ini. Ia juga mempertanyakan maksud para penyandera pesawat, yang ingin ke USA. Ia mengatakan bahwa keinginan mereka ke USA, karena banyangan suatu saat akan mobil Mercy dan berbagai hal kemewahan lainnya. Sebuah semangat hidup hedonisme.

Menyangkut Kuba ini, ada sebuah komentar dari Dr Haridadi Sudjono Mantan Dubes RI (1999-2003) di sana dalam sebuah tulisannya di harian Seputar Indonesia

“Dengan program pembangunan yang berbasis ajaran Bung Karno itu, Kuba kini merupakan negara kecil yang berpotensi besar. Di bidang kesehatan, Kuba mendapat pengakuan dari WHO sebagai salah satu negara dengan tingkat pemeliharaan kesehatan terbaik di dunia.Tingkat kematian bayi hanya 6,2 per 1.000 kelahiran dan usia harapan hidup mencapai rata-rata 76 tahun. Rakyat seluruh negeri mendapat pelayanan kesehatan dan pendidikan secara cuma-cuma dan telah mendapat pengakuan UNESCO. Pada 2000, Kuba merupakan negara dengan fasilitas pendidikan terbaik di kawasan Amerika Latin. Setiap diselenggarakan Olimpiade Matematika Dunia, Kuba selalu memborong medali emas. Keunggulan Kuba terlihat saat pada 1961 mereka sudah menampung 40.000 pelajar dari 120 negara untuk mengikuti pendidikan di negeri kecil ini, khususnya di bidang kedokteran. Kemudian, sampai akhir 2001, Kuba telah memiliki 67.000 orang dokter dan di antara mereka bekerja sebagai tenaga ahli di 58 negara kawasan Amerika Latin, Asia, dan Afrika. Di samping penghasil dokter, Kuba juga penghasil obat-obatan yang sudah diakui PBB. Kuba merupakan produsen vaksin Hepatitis B terbesar di dunia. Jumlah ilmuwan Kuba menduduki persentase tertinggi kelima di dunia sesudah Jepang, Israel, Amerika Serikat, serta Kanada dan Australia. Karena itu, negeri kecil ini memiliki keunggulan SDM yang berkualitas tinggi. Lebih dari 95% penduduk Kuba sudah bisa mengenyam pendidikan dasar hingga menengah.Alokasi anggaran belanja pendidikan di Kuba menduduki peringkat kedua terbesar sesudah belanja untuk tunjangan sosial.”

Kunci semua ini hanya satu, yakni konsisten. Sesuatu yang muncul dari pemahaman yang mendalam dan mendetail tentang sebuah ideologi.

Ini membuatnya konsisten melaksanakan ideologi yang membuat ia memimpin revolusi di sana. Setelah berhasil dan terpilih menjadi Perdana Menteri dan kemudian Ketua Dewan Negara, ia tetap konsisten. Melaksanakan sosialis berdasarkan Marxis. Ia mengerti dengan baik, ideologi apakah yang dia perjuangankan. Modal seluruhnya adalah milik negara dan dikelolah untuk sejahteraan rakyat.

Castro mempercayakan diri-nya dan rakyatnya kepada teori itu. Dan sampai saat ini, ia masih berpegang kepada hal itu. Ia hidup dan mati hanya untuk sebuah ide. Itu-lah letak kekuatan dan kegilaannya.

Untuk membangun Indonesia atau terkhusus Papua, pada saat ini kita perlu orang – orang yang gila. Yang hidup dan mengarahkan hidupnya, hanya untuk sebuah ide(ologi).

Mungkin salah satu sebab Indonesia tak maju adalah karena para pemimpinnya tidak memiliki ideologi yang kuat. Sehingga mereka hanyut adalah praktisme ketika memimpin. Meski harus diakui, misalnya Alm. Sophan Sophia tidak masuk dalam kelompok ini – sayangnya ia yang ideolog Marhein PNI yang melebur ke PDIP kemudian mengundurkan diri, setelah tak tahan dengan pratisme yang terjadi dikalangan elit pemimpin negara. Para pemimpin tak memiliki ideologi untuk diterapkan. Konsep UUD 1945 hasil refisi juga masih membingungkan. Karena oleh Hatta telah diletakan sebagai negara sosialis (pasal 33) tetapi dalam praktenya, melaksanakan kapitalis tanpa batasan rambu.

Kasus Cina menarik, meski ia melaksanakan Komunisme Mao, tetapi hal ini telah sangat diwarnai dengan paham Kongfusme dan Taoisme. Misalnya yang ditunjukan oleh PM Wen Jiabao yang menghormati, setiap mayat yang ditemukan dengan membungkuk tiga kali setelah gempa bumi di Sichuan ( “Penghormatan kepada keluarga – salah satu dari 3 ajaran inti Kongfutze).” Dan,“pelaksanaan hukum pertama penentu kemenangan yakni jalan yaitu keramahan–mengerti penderitaan rakyat-dan keadilan–pemberian penghargaan dan penghukuman yang setimpal–yg adalah kekuatan moral penguasa (Sun Tzu,Bab I,Penilaian Strategi)).

Apa ideologi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia ini? Pancasila? Saya hampir tak mendengar lagi hal ini dibicarakan – apalagi dilaksanakan. Jika pun diajarkan, itu hanya sebatas di dalam wacana seminar dan ruang kuliah.Tak ada pelaksanaan praktis dilapangan.

Karena memimpin negara tanpa Ideologi, maka jangan heran, ketika berkuasa, beberapa pemimpinya kemudian mengalami lonjakan kekayaan yang luar biasa. Partai politik bukan lagi sebagai saluran dan tempat membentuk ideologi (yakni berbagai versi turunan dari Pancasila) para calon negarawan.

indonesia telah melupakan Marhaenisme Soekarno–yang diakui Castro sebagai ide yang juga mempengaruhinya di dalam memerintah.

Meski begitu,ada sesuatu yang menarik dalam negara ini,yakni NKRI.Paham Kesatuan teritorial. Untuk itu, mereka boleh membunuh siapa saja,seenak udel. Misalnya yang terjadi hari ini (25 Mei 2008) di Wamena, Papua.

Iklan