tak perlu ragu lagi

tak perlu ragu lagi

Engkau laksana embun penyejuk, dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa…

Kita tentu masih ingat lirik lagu diatas. Ya, tidak salah, itulah secuil bait lagu Himne Guru. Lirik lagu itu menunjukan bertapa pentingnya keberadaan guru bagi kehidupan seluruh manusia yang ada di muka bumi. Kita pasti mengakui jasa seorang guru bagi diri kita, walau mengakuinya hanya dalam hati kecil.
Lantas, adakah diantara kita yang bercita-cita menjadi guru, sang pahlawan bagi kehidupan manusia itu? kalau ada tak perlu ragu, teruslah maju..!

Dulu profesi guru sangat bergengsi, tapi sekarang rupanya profesi guru kurang diminati lantaran hanya karena kurang dihargai dibandingkan dengan guru yang lainnya yang penuh gemerlap dengan atribut kesuskesan hidup. Padahal kalau kita kaji dan amati kembali pada zaman pejajahan belanda guru sangat dipandang sebagai sesosok pribadi yang dapat memimpin, mengayomi dan melindungi yang disegani serta mempunyai status sosial ekonomi yang relatif tinggi.
Pada masa penjajahan Jepang, profesi guru juga masih terhormat dibandingkan sekarang. Pada zaman itu para guru dijuluki dengan panggilan sensei yang dalam tingkah laku dan kebudayaan Jepang memiliki kedudukan atau status sosial yang sangat dijunjung tinggi dan dihormati.

Dalam masa awal perjuangan kemerdekaan Indonesia, para guru juga dihargai karena mereka bukan saja mengambil peran amat penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga tak sedikit yang ikut aktif menjadi tentara rakyat dan berperang mengusir penjajah dari tanah air Indonesia.

Zaman telah berubah. Namun sejak dulu hingga sekarang untuk menjadi guru setidaknya kealihan dasar, yaitu mengajar, mengelolah kelas dan merancang pengajaran. Selain itu tugas seorang guru adalah mendewasakan dengan demikian profesionalisme seorang guru dibangun melalui penguasaan-penguasaan kompetensi yang secara nyata diperlukan dalam menyelesaikan pekerjaan.

Profesi guru pada hakekatnya adalah suatu bentuk pelayanan manusia. Nah.. bagi yang ingin menjalani profesi ini, sebaiknya menyadari dulu bahwa hakekat profesi ini menuntut bukan nafkah hidup yang menjadi motivasi utamanya, melainkan kesediaanmu untuk melayani sesama. Oleh karena profesi guru sering disebut sebagai profesi yang luhur dan mulia.

Ironisnya, guru yang telah berhasil menghasilkan banyak pemimpin politik, pelaku bisnis, ilmuwan serta berbagai profesi lainnya kini dianggap sebagai profesi yang “murahan” dan dijadikan sebagai kelompok masyarakat yang dipinggirkan. Tetapi hal ini tidak harus dilawan secara radikal agar semua masyarakat sadar dan menerima guru sebagai yang profesionalis yang berjasa bagi pembangunan negeri ini.

Guru memang tanpa tanda jasa, tetapi ia selalu dikenang untuk itu bagi siapaun pembaca, terlebih khusus bagi mereka yang mengiginkan menjadi guru tidak perlu ragu, malu dan singgung ini pekerjaan mulia yang memang kalau dilihat secara fakta tidak menjanjikan kelimpahan harta, namun jasa bagi yang menjadi seorang guru selalu dikenang selamanya, seperti yang terpatri dalam lirik lagi berikut ini:

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru…
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku…
Semua baktimu akan kuukir didalam hatiku…
Sebagai prsasti trima kasihku tuk pengabdiaanmu…

Ya, guru selalu tampil dalam situasi apapun. Profesi pencerah peradabaan dunia. Hanya saja sayangnya, tidak sedikit diantara mereka merasa tidak diperhatikan. Sebaliknya masih banyak pula guru yang hanya rajin menuaikan haknya ketimbang kewajibannya dan tugasnya di sekolah. Guruku Sayang, Guruku Malang.

Iklan