Oleh: Soehendarto

PUNCAK JAYA [Sinar Harapan] – Tingginambut adalah sebuah distrik (kecamatan) di Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua. Lokasinya di jajaran pegunungan tengah pada ketinggian 4.000 meter. Sulit mencari hari dengan udara hangat di sini. Sepanjang hari selalu dingin, rata-rata

10 derajat Celsius. Kabut tebal memutih kerap menyelimuti wilayah ini sampai ke permukaan tanah. Bagi orang luar yang masuk ke kawasan ini, kondisi alam tersebut akan terasa berat. Apalagi kalau mereka tidak mengenal adat istiadat suku Lani, penghuni kabupaten ini.

Di sini pula bermarkas sekelompok orang yang bergabung dalam Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) yang dipimpin ”Jenderal” Goliat Tabuni yang oleh para pengikutnya disebut sebagai ”Panglima KODAP III”. Kelompok ini sampai sekarang masih berseberangan dengan pemerintah. Mereka menuntut masyarakat disejahterakan, atau terus berjuang untuk lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Markas pasti kelompok ini sulit diketahui, kerap berpindah, di hutan, bukit, atau lembah yang sulit didekati. Untuk menemui Goliat cukup sulit, ada pengamanan berlapis. Dari catatan yang didapat SH, kelompok ini memiliki 18 pucuk senjata api berbagai jenis, juga berbagai senjata tradisional, seperti panah dan parang.

Kekuatan sesungguhnya kelompok ini sulit diketahui, namun yang jelas mereka mampu memobilisasi warga, yang umumnya masih sederhana, untuk mengganggu keamanan. Kisah penyerangan terhadap pos aparat keamanan sudah bukan hal baru. Akibat dari kejadian tersebut kadangkala jatuh korban jiwa maupun materi dari kedua belah pihak.

Jalan Tembus

Namun belakangan ini, setelah diberlakukannya Otonomi Khusus (Otsus) Papua, situasi membaik, layaknya terjadi gencatan senjata. Komunikasi mencair antara aparat yang bertugas di pos-pos keamanan dengan kelompok ini. Kadang kala, para pengikut Goliat Tabuni turun menyambangi pos keamanan itu tanpa terjadi insiden. Mereka berbincang-bincang dan terkadang bercanda.

Perkembangan positif ini tak lepas dari peran Bupati Puncak Jaya Lucas Enembe Spd, dan wakilnya Drs Henok Ibo, bekerja sama dengan Kapolres Puncak Jaya, AKBP Chris Rihulay, serta para komandan satuan samping.

Kabupaten Puncak Jaya dengan ibu kotanya Mulia, sebelumnya hanya sebuah distrik (kecamatan) yang bagai terisolasi. Tak ada jalan darat untuk mobil. Satu-satunya alat transportasi adalah pesawat Cessna, dan sekali-kali masuk jenis Twin Otter carteran yang mengangkut pejabat provinsi yang mengadakan kunjungan kerja atau untuk mengedrop kebutuhan logistik. Jadi, kebutuhan bahan pokok ketika itu sangat mahal. Sekarang, di era otonomi khusus, lapangan terbang telah beraspal, dan ada dua kali penerbangan setiap harinya oleh maskapai swasta.

Kalau tidak mau naik pesawat, kini sudah ada jalan mobil yang membentang dari Wamena ke Mulia, sepanjang 280 kilometer, meski baru berupa jalan pengerasan. Rute ini bisa ditempuh selama 10 jam dengan kendaraan Mitsubishi L200. Kini para pedagang dari Wamena membawa barang-barang kebutuhan pokok masyarakat ke Mulia, ibu kota Puncak Jaya. Walaupun harga-harga masih tergolong mahal, pasar telah tumbuh pesat.

Wakil Bupati Puncak Jaya Henok Ibo mengatakan kepada SH, apabila lapangan terbang lain yang berada di Sinak yang bisa didarati pesawat jenis Hercules sudah selesai dibangun, harga-harga kebutuhan pokok bisa ditekan. Ibo mengungkapkan dia masih menunggu realisasi janji Gubernur Papua Barnabas Suebu yang akan membantu dana Rp 120 miliar.

Dikunjungi Kapolda

Jarak tempuh Mulia ke Tingginambut adalah 75 km. Dengan kendaraan mobil, jarak itu dapat ditempuh selama dua jam, kalau tidak hujan. Di kiri-kanan jalan masih hutan perawan, dengan lembah dan jurangnya. Namun kondisi ini tidak menyurutkan Kapolda Papua Irjenpol Fx Bagus Ekodanto, yang bersama rombongan mengunjungi Tingginambut.

Para pejabat Polda yang ikut dalam rombongan adalah Karo Ops Kombes IGN Sumeka, Direskrim Kombes Paulus Waterpauw, Kasat Brimob Kombes Wira Wibawa, Dir Samapta Kombes M Yamin Sumitra, dan Kabid Humas Kombes Agus Rianto. Wartawan SH satu-satunya unsur pers yang menyertai. Dari unsur pimpinan Kabupaten Puncak Jaya menyertai pula Bupati Lukas Enembe, Wakil Bupati Henok Ibo, Ketua DPRD Timotius Murib, Kapolres AKBP Chris Rihulay, dan Wakapolres Kompol Marselis S.

Rombongan disambut oleh warga masyarakat yang telah berkumpul. Termasuk dalam kerumunan dan membaur di masyarakat sejumlah besar pengikut Goliat Tabuni. Mereka punya ciri berambut gimbal dan gondrong. Brewok lebat menghiasi wajah menambah kesan sangar.

Untuk acara ini masyarakat menyediakan hidangan makan siang. Mereka memasak dengan cara bakar batu, dan memotong 300 ekor babi. Kapolda Bagus Ekodanto dalam kesempatan itu meresmikan Pos Polisi, SD, dan kantor Distrik Tingginambut. Sebelumnya, semua bangunan tersebut dihancurkan rata tanah oleh kelompok Goliat Tabuni. Kemudian, oleh Bupati Lukas Enembe dibangun kembali dan mendapat respons masyarakat.

Goliat Tabuni tidak tampak, atau kalau pun tampak mungkin tidak ada yang mengenalinya. Yang terlihat hanya sejumlah orang kepercayaannya, seperti Kotoran Tabuni, Deki Tabuni (anak Goliat), Tendiles Murib, Ogolek Wonda, Sari Tabuni, dan Mus Wanimbo. Goliat mengirimkan lima kalung adat yang kemudian dikalungkan kepada Kapolda, Bupati, Wakil Bupati, Kapolres, dan Wakapolres. Ini pertanda rombongan diterima sebagai keluarga.

Pada kesempatan itu Kapolda Bagus Ekodanto kepada warga masyarakat Tingginambut, termasuk Goliat Tabuni dan para pengikutnya, berpesan agar bersama-sama pemerintah dan aparat keamanan untuk membangun Kabupaten Puncak Jaya dan memelihara perdamaian. Bupati Lukas Enembe dalam dialog dengan masyarakat menyampaikan apresiasi atas respons masyarakat yang mendukung pembangunan berbagai fasilitas publik tersebut.

Ketika suasana santai, Kapolda Bagus Ekodanto mendekati kerumunan pengikut Goliat Tabuni. Kapolda memanggil ajudannya, mengambil kacamata pribadinya dan diserahkan kepada Deki Tabuni, anak Goliat Tabuni. ”Ini kacamata saya pribadi. Tolong sampaikan kepada ayahmu, Goliat Tabuni, sebagai kenang-kenangan. Sampaikan salam persaudaraan. Bila ingin bertemu, beritahukan kapan dan di mana saja. Kalau mau ketemu di Tingginambut dalam suasana kekeluargaan, saya juga bersedia datang lagi,” kata Bagus.

Keesokan harinya, ketika akan meninggalkan lapangan terbang Mulia untuk kembali ke Jayapura, Kapolda menitipkan surat kepada Kotoran Tabuni bersama tiga orang lainnya, yang ikut mengantarnya. Surat kepada Goliat Tabuni itu berbunyi: ”Kepada Saudaraku terkasih Goliat Tabuni di Tingginambut. Sudah saatnya sekarang ini Saudaraku Goliat Tabuni bersama-sama masyarakat, Bupati, Wakil Bupati, Ketua DPRD, Kepala Suku dan Kepala Kampung di tanah yang diberkati di Tingginambut ini untuk membangun dan menyejahterakan masyarakat dengan damai, tulus ikhlas dari hati yang penuh kasih sayang. Semoga Tuhan selalu memberkati kita sekalian, Amin. Salam kasih sayang. Puncak Jaya, 25 Juni 2008. Kapolda Papua tertanda Drs Fx Bagus Ekodanto, Irjen Pol.” Semoga pesan ini diterima dengan baik oleh Goliat Tabuni. ***
____________________________________
Sumber: http://www.sinarharapan.co.id
Edisi: Kamis, 17 Juli 2008

Iklan