Agustus 2008


Muridan Widjojo*

SUDAH sejak 2004 Tim LIPI untuk konflik Papua sudah mulai membuat penelitian. Sudah tiga monograf diterbitkan. Setelah dibekukan satu tahun pada 2007, pada 2008 dilanjutkan kembali sebagai tahun terakhir. Nah pada tahun terakhir inilah Tim LIPI harus membuat model penyelesaian konflik Papua jangka panjang dan menyeluruh. Saya sebagai koordinator Tim LIPI menamainya PAPUA ROAD MAP (PR). Agar hasil penelitian ini bisa berarti untuk kebijakan pemerintah untuk Papua, kami juga membuat kampanye ke publik dan pemerintah. Secara ringkas PR dapat diringkas sebagai berikut:

Sumber-sumber konflik Papua dapat dikelompokkan dalam empat isu. Pertama, masalah marjinalisasi dan efek diskriminatif terhadap orang asli Papua akibat pembangunan ekonomi, konflik politik, dan migrasi massal ke Papua sejak 1970. Untuk menjawab masalah ini, kebijakan afirmatif rekognisi perlu dikembangkan untuk pemberdayaan orang asli Papua. (lebih…)

JAYAPURA (PAPOS)- Ribuan massa mendatangi kantor Gubernur Papua dan DPR Papua, menyampaikan penolakan pemberlakuan Syariah Islam di tanah Papua dan pemberlakukan hari Minggu sebagai hari kerja.

Massa yang tergabung dalam wadah Forum Komunikasi Kristen Indonesia (FKKI) minta pemerintah secepatnya mengambil sikap melalui Perdasus dan Perasi, jika tidak keberadaan Papua dalam NKRI terancam.
Massa dari setiap perwakilan geraja yang ada di kota Jayapura dan Sentani ini Senin (4/8) membawa ratusan spanduk dan poster yang bertuliskan ”Pancasila Yes, Syariah No”, “Gubernur, DPRP berilah kami cenderamata Perdasi dan Perdasus sebagai jaminan janji imanmu bagi Tuhan dan rakyat Papua”. (lebih…)

DEWAN ADAT PAPUA minta pemerintah tidak membongkar makam Ketua Presidium Dewan Papua (PDP) Theys Hiyo Eluay di Taman Peringatan Kemerdekaan dan Pelanggaran HAM Papua, Sentani, Jayapura, (penyesuaian Suara Pembaruan, 10 November 2003).

Pada hari berikutnya, 11 November 2003, rakyat Papua di Jayapura memperingati dua tahun meninggalnya Theys Hiyo Eluay dengan ibadat. Pada ibadat itu, rakyat Papua mengadakan kegiatan tabur bunga di makam Theys. “Semua kegiatan itu sudah dilaporkan dan dikoordinasikan dengan intel Kodam dan Polda, “ kata Zadrak Taime, seperti dikutip Harian Suara Pembaruan, November 2003.

Harian Kompas melalui Antara, Juni 2007 mengatakan, isu pembakaran makan Theya itu tidak benar. “Tidak benar isu yang menyebutkan bahwa kuburan mendiang Theys Hiyo Eluay di Sentani, Papua, akan dibakar oleh seorang yang mabuk hari Kamis, (6/6) (2007: red).

Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Haryadi Soetanto mengatakan, Theys Hiyo Eluay sebagai tokoh yang dihormati perlu ditempatkan di lokasi yang baik dan terhormat (Cenderawasih Pos, 29 Mei 2008). “Sebagai seorang tokoh dan dihormati masyarakat, penempatan makam itu harusnya ditempatkan di lokasi yang baik dan terhormat, bukan di pinggir jalan,” kata Pangdam seperti dikutip Cenderawasih Pos, 29 Mei 2008. (lebih…)

KEEROM [cepos] – Masyarakat Kampung Wembi, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, mengancam akan mengibarkan bendera Bendera Bintang Kejora sebagai lambang separatis Papua merdeka. Ancaman tersebut disampaikan salah satu Tokoh Masyarakat Kampung Wembi, Benny Mekawa ketika menerima kunjungan kerja Ketua DPRD Kabupaten Keerom, Kundrat Gusbager, S.Si, MM didampingi Ketua Komisi B, Semuel Isir, SH, di Kampung Wemby, Distrik Arso Timur, Kamis (31/7) lalu.

Munculnya ancaman pengibaran Bintang Kejora itu sebagai akumulasi kekecewaan masyarakat yang diwakili aspirasinya oleh Benny Mewaka, Tokoh Agama Kampung Wembi, Yambe Abdi, Tokoh Adat Kampung Wembi, khususnya Suku Manem, Jeck Mekawa, Tokoh Masyarakat Kampung Pyawi, bahwa sudah sekian tahun lamanya (sejak 1974) kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat, baik di Kampung Wembi maupun Kampung Pyawi tidak pernah diperhatikan secara baik oleh Pemerintah Kabupaten Keerom (lebih…)