TIMIKA- Saat ini Asrama Penjunan menampung 64 anak asli Amungme, terdiri dari 55 anak laki-laki dan 9 anak perempuan. Umumnya mereka berasal dari 3 desa di daerah dataran tinggi di sekitar Tembagapura, yakni Desa Aroanop, Tsinga dan Hoea.

Sistem pembinaan dibuat sedemikian rupa sehingga anak-anak yang ada di asrama ini mendapatkan pendidikan dan pembinaan yang baik dan terpadu.

Untuk membina anak-anak yang ada di asrama tersebut, terdapat sekitar 7 orang pengasuh. Seorang pengasuh mempunyai 10 anak binaan. Umumnya para pengasuh adalah para hamba Tuhan, sebab anak-anak binaan di Asrama Penjunan ini semuanya beragama kristen

Saat pertama kali masuk asrama, tidak semua anak mempunyai pengetahuan dasar yang memadai, meskipun di desa asal mereka, mereka sudah ada yang duduk di kelas 5 atau 6 sekolah dasar (SD). Sehingga saat direkrut, mereka harus di tes dulu untuk mengetahui kemampuan pengetahuan dasar mereka, terutama kemampuan membaca dan berhitung.

Sebab, di kampung asal mereka, umumnya anak-anak ini tidak memperoleh pendidikan dasar yang memadai. Mereka umumnya membantu orang tua mereka mencari nafkah, seperti berkebun atau berburu ke hutan.

Terkadang mereka hanya masuk sekolah jika hendak ujian kenaikan kelas, sehingga tidak jarang ditemui ada anak-anak yang meskipun sudah berusia 9 atau 10 tahun atau duduk di kelas 5 atau 6 SD, namun tidak bisa membaca, menulis atau berhitung.

Ò Itu sebabnya, anak-anak ini sengaja dibawa dari desa mereka di daerah pegunungan ke asrama ini agar budaya belajar itu ada,Ó terang Kepala Asrama Penjunan Erwan Soharjanto kepada Cenderawasih Pos.

Bagi yang belum bisa membaca atau berhitung, termasuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, mereka harus mengikuti program martikulasi lebih dahulu. Tujuannya agar ketika melanjutkan sekolah di SD yang ada, mereka sudah bisa membaca, menulis dan berhitung dengan baik.

Erwan Soharjanto menjelaskan, setelah 8 bulan mengikuti program martikulasi yang dilakukan pihak asrama, umumnya anak-anak tersebut sudah mampu membaca, menulis dan berhitung.
Dikatakan, dari jumlah 64 anak asli Papua dari suku Amungme yang ada di asrama tersebut, umumnya berusia dibawah 11 tahun. Ò Kami sangat bersyukur karena PTFI membuat asrama ini dengan sistem pembinaan yang sangat baik dan sangat membantu bagi anak-anak asli di sini,Ó jelas Erwan. (lucky ireeuw)

Iklan