Pendidikan


menulis itu membebaskan

menulis itu membebaskan


Seorang sahabat datang dengan raut wajah yang sedih seraya mengatakan “Saya sangat sedih kenapa dia membuat hati saya sakit”. Sahabat ini membicarakan pacarnya yang telah membuat hatinya sakit beberapa hari lalu. Kemudian dia mengatakan kalau sakit hati yang telah dirinya alami sudah tidak bisa dihilangkan atau dipulihkan.

Saya sebagai sahabat maupun teman yang sangat akrab ikut sedih ketika dirinya mengungkapkan kalimat tersebut. Namun apa boleh buat saya juga hanya manusia biasa yang tidak bisa menyembuhkan luka batin sahabat saya akibat ulah pacarnya. Dirinya bertanya kepada saya beberapa cara untuk menyembuhkan luka batin tersebut. Saya pun sedikit membuka jalan untuknya. Karena kebetulan saya sendiri orang yang gemar tulis menulis maka saya menyarankan agar dirinya menuliskan semua peristiwa yang telah terjadi dalam buku hariannya kemudian dalam buku tersebut akhiri dengan kata pengampunan untuk pacarnya. Dengan sedikit tips ini, saya rasa akan sedikit membantu dirinya untuk menghilangkan luka batin yang dialami dirinya.

Dua hari kemudian dia tidak masuk sekolah. Saya pun bertanya-tanya dalam hati mengapa dia tidak masuk? Dengan berani saya segera menuju rumahnya dan bertanya mengapa sampai dia tidak masuk sekolah. Jawabnya “Saya sangat senang dengan pendapat kamu berikan dua hari lalu. Mengenai curahan kasih sayang serta kesal melalui sebuah buku harian, ternyata dengan cara tersebut sangat manjur. Karena saya telah sedikit melupakan dirinya yang telah nyata-nyata menyakiti hati saya walaupun saya tahu tidak semudah membalik telapak tangan.” (lebih…)

Iklan

tak perlu ragu lagi

tak perlu ragu lagi

Engkau laksana embun penyejuk, dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa…

Kita tentu masih ingat lirik lagu diatas. Ya, tidak salah, itulah secuil bait lagu Himne Guru. Lirik lagu itu menunjukan bertapa pentingnya keberadaan guru bagi kehidupan seluruh manusia yang ada di muka bumi. Kita pasti mengakui jasa seorang guru bagi diri kita, walau mengakuinya hanya dalam hati kecil.
Lantas, adakah diantara kita yang bercita-cita menjadi guru, sang pahlawan bagi kehidupan manusia itu? kalau ada tak perlu ragu, teruslah maju..!

Dulu profesi guru sangat bergengsi, tapi sekarang rupanya profesi guru kurang diminati lantaran hanya karena kurang dihargai dibandingkan dengan guru yang lainnya yang penuh gemerlap dengan atribut kesuskesan hidup. Padahal kalau kita kaji dan amati kembali pada zaman pejajahan belanda guru sangat dipandang sebagai sesosok pribadi yang dapat memimpin, mengayomi dan melindungi yang disegani serta mempunyai status sosial ekonomi yang relatif tinggi.
Pada masa penjajahan Jepang, profesi guru juga masih terhormat dibandingkan sekarang. Pada zaman itu para guru dijuluki dengan panggilan sensei yang dalam tingkah laku dan kebudayaan Jepang memiliki kedudukan atau status sosial yang sangat dijunjung tinggi dan dihormati. (lebih…)

jangan menghancurkan papua

jangan menghancurkan papua


NABBIRE – sebuah kesimpulan. Banyak yang kecewa akan kemerosotan moral yang terjadi di kalangan warga Papua ketika ia mendapat giliran memimpin. Yakni tidak adanya komitmen dalam memperjuangkan sesuatu ide.

Ketika Gus Dur bertanya kepada Castro, masuk kategori apakah dia. Maka ia memberi jawaban, masuk ke dalam kategori no. 3 dan no. 4. Karena sebelumnya Gus Dur menceritakan sebuah cerita, yang membuat Castro tertawa terbahak-bahak. Yakni lelucon tentang para Presiden Indonesia. Presiden Pertama, Gila Wanita, President Kedua, Gila Harta, President Ketiga, gila beneran, President Keempat (Gus Dur sendiri), yang memilihnya gila.

ternyata, Castro memasukan dirinya, dalam golongan 3 dan 4. Yakni diri-nya gila dan yang memilihnya (rakyat)nya gila.
Ini menarik. Karena Castro yang mengatakan dirinya gila itu, menurut saya, di sini dia menjelaskan konsistensinya di dalam melaksanakan paham sosialis yang berdasarkan Marxis. Meski komunisme dunia hancur (tinggal Korut, Cina (meski ekonomi-nya kapitalis), dan Cuba. belakangan ini Venezuala. Sedang Peru, dan Brasil sedang mencoba mencoba membangun sistem ekonomi mereka sendiri, di luar sosialis dan kapitalis ( pelokalan kegiatan ekonomi) berdasaran teori dari de Soto. FYI, ada perkembangan menarik, yakni, ideologi Maoist di Nepal yang baru berkembang dan berhasil menekan kerajaan. (lebih…)

Asrama Agape, (oktopogau.com) Salah satu tujuan utama diadakannya pemekaran berbagai Kabupataen baru seperti Dogiyai, Kamu Tengah, Lani Jaya, Mamberamo Tengah, Nduga dan beberapa saat lalu dimekarkannya Provinsi Irian Jaya Barat oleh Menteri Dalam Negeri adalah untuk tujuan mempercepat pembangunan dan lebih mensejahtrakan rakyat pribumi. Melihat gencar-gencarnya pemekaran berbagai Kabuptaen baru seperti ini memberikan suatu pertanyaan kepada kita khayalak umum terlebih khusus bagi yang berpendidikan ada apa sih dibalik semua pemekaran itu.

Dengan tujuan utama diatas memberikan suatu pertanyaan buat kita betulkah tujuan utama pemekaran adalah mempercepat pembangunan dan mensejahtrakan rakyat pribumi seperti yang telah dicanangkan terlebih dahulu. Sedikit menanggapi pernyataan diatas bahwa para penjabat daerah yang mati-matian memperjuangkan agar daerah baru bisa dimekarkan perlu tinjau dan menoleh kebelakang bahwa Otonomi Khusus telah diberlakukan sejak dikeluarkannya Undang-Undang No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus tujuh tahun yang lalu, tetapi apakah percepatan pembangunan dan kesejahtraan masyarakat pribumi di Provinsi Papua telah terlihat dan nyata wujudnya. Banyak orang beralasan termasuk para penjabat daerah maupun para penjabat yang duduk di Provinsi bahwa kurang adanya sosialisasi tentang Otonomi Khusus ke daerah pelosok-pelosok pantai maupun ke daerah pedalaman-pedalaman pegunungan sehingga membuat Otonomi Khusus belum begitu dirasakan manfaatnya oleh seluruh kalangan masyrakat yang ada di Papua. (lebih…)

Good is the enemy of great. – Baik adalah musuh dari luar biasa.”
~ Jim Collin

Memang sudah seharusnya kita semua tidak berhenti setelah berhasil mencapai prestasi. Jika Anda hanya puas setelah mencapai satu prestasi, tentu Anda tidak dapat lagi menjadi lebih baik 10 kali lipat, 20 kali lipat dan seterusnya. Meningkatkan prestasi kerja di dunia yang terus berkembang pesat sudah pasti memberikan berjuta manfaat yang mungkin belum pernah Anda pikirkan sebelumnya.

Ironisnya, ternyata makin banyak saja orang yang memilih hidup aman, menjalani kehidupan rutin tanpa tantangan sama sekali. Kehidupan mereka tak pernah berubah, karena mereka tak pernah mencoba sesuatu yang baru apalagi meningkatkan standar prestasi. Mereka rela menerima hidup apa adanya dan tak pernah lebih baik dari sebelumnya, karena takut gagal atau membuat kesalahan. (lebih…)